Kaki Protes, Jiwa Progres: Perenungan di R4 Ultra Marathon ITB 180 KM 2025

 Key point:

  • UM ITB 2025 tidak menambah macet, tapi nambah pendapatan
  • Jangan mengagendakan running trail sebagai  program latihan marathon!
  • Istirahat  dan nutrisi harus cukup kalau perlu agak dilebihkan
  • Latihan engkel untuk panjang umur
  • Perenungan diri, bersabar, dan bertobat!
  • Tim support pun perlu punya ketahanan fisik dan kesabaran 

Beruntung 😊


ITB Ultra Marathon tahun ini, setidaknya menurut saya, berbeda. Banyak perbaikan, banyak dukungan, cerita-cerita heroik, dan happiness. Dan, paling penting, di saat event lari tidak membuat atau menambah kemacetan.  Kalaupun ada dalam hitungan singkat bisa teratasi.  Tidak ada korban jiwa, tidak ada kabar masuk rumah sakit, keamanan terjaga. Terima kasih untuk panitia dan berbagai aparat yang membantu.

Menarik! Motivasi keikut-sertaan peserta yang bermacam-macam. Ada yang "mumpung ada event besar kampus, ayo kita kumpul" (ini paling banyak diinisiasi oleh alumni), ada yang mencari podium, mengumpulkan portofolio, ada yang ingin "break the limit", atau "redemption" karena event UM ITB sebelumnya DNF. Yang paling menarik adalah, event ini dimanfaatkan untuk ajang  penggalangan dana yang lebih terkoodinir. Motivasi penggalangan dana yang ditularkan dari para guru besar (dari angkatan 72 sampai 99), dosen-dosen di berbagai fakultas, dan para-alumni. Saat saya membuat blog ini, dana lestari terkumpul sudah 1,3 milyar rupiah (sepertinya ini pun belum di-close).  Dana yang nantinya digunakan untuk beasiswa mahasiswa, peningkatan kualitas akademik, riset, dan lain-lain. 

Bu Sophi Damayanti, sempat menceritakan juga di media sosialnya, cerita heroik para guru besar yang ikut berlari. Bayangkan, guru-guru kita ini. Beberapa yang sudah tidak muda, dengan semangat membara, berlari demi tim, demi mahasiswa, dan demi almamater. Beberapa mengalami kram (termasuk pak menteri) dan kelelahan berat. Sepertinya semua keluhan diabaikan atau dinikmati, semua Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Merdeka!!

Mungkin hal-hal inilah yang membuat masyarakat di kota-kota yang dilewati event ini, minim cibiran dan penolakan. Tidak menambah macet, keamanan OK, dan masih ada warna kegiatan sosial. Alhamdulillah, sepanjang saya berlari (jalan juga) beberapa kali disapa dan ditanya, oleh warga yang sedang nongkrong dan yang sedang mengendara motor/mobil. Semangat, Kang! (kadang-kadang Pak 😑), Lari dari mana, Dek? (😊),  Semangat, Ruuuseeee! (yang ini mah baturan, Mang Kendi and his beloved wife)
Saya virgin UM ITB yang beruntung, semua kekhawatiran saya tidak terjadi. Malah, saya ikut serta memperbanyak dana lestari ITB.

 Cedera 😖

Ketika jadwal fix UM ITB ini bergulir, bos saya, Pak Dekan , mengajak saya untuk berpartisipasi di event ini. Sepulang haji di awal Juli, saya diajak untuk mengikuti Relay 4 (R4) yang artinya, tiap orang menempuh kurang lebih 45K, rata-rata. Wuih, FM saja ga pernah ikut race dan enggan pula, ini sekali diajak langsung FM ++. Saya menawarkan untuk R8, tapi jawabannya "Kalau Dekanat R8 itu sudah tidak menarik lagi". 
Siap, Pak Dekan!!😊... (risiko bekerja dengan para bos yang atlet semua)

................. ah ...................

Pak Dekan berhasil mengumpulkan tim dan menentukan leg-nya. Ini urutan legnya:

1. Prof Benyamin Sapiie, Guru Besar FITB
2. Saya, ............ah................ lagi
3. Pak Dasapta Erwin Irawan, Wakil Dekan Sumber Daya FITB
4. Pak Dudy Wijaya, Dekan FITB
............ dan 15 orang menjadi tim support 

Kenapa ........Ah...? Karena ini, lihat gambar ini , lihat .... leg 2 menanjak 1,3 K, seperti langkah menuju surga.

Gambar 1. Leg pelari Tim R4 FITB dan elevasi lintasan sepanjang leg 2 Cibinong-Ciawi

Seperti yang sudah-sudah, sebelum ikut long run, saya harus membenahi diri jiwa dan raga dari beberapa bulan sebelumnya. Dengan waktu yang tersisa, menu latihan disiapkan dan dilaksanakan semampunya. Tujuannya agar sepanjang marathon, masih bisa senyum untuk keperluan Fotoyu, finish dalam keadaan badan sehat, dan kecerdasan tidak menurun. Biasanya setiap event-event lari di Bandung itu ada di weekend, dan saya memasukan ultra trail run 27,5 K (Jayagiri) Bandung ultra 100 dalam program latihan saya. Kenapa? Karena diajak Ica GM99 (diperkuat oleh bujukan Ijal LSS00), tidak membuat macet kendaraan, udara steril, secara jadwal ada di dua minggu sebelum itb ultra. Pertimbangan jarak tempuh dan height gain, saya pikir  pas untuk peak training. Setara dengan marathon di road run. Ya, siapa tahu, sambil training sambil dapet medali dan kaos finisher.

Gambar 2. Elevasi bdg ultra trail - Jayagiri trail dan medali finisher

Nasib, di kilometer ke tiga, kaki kanan saya mengalami terkilir pertama dan disusul dengan tiga-empat kali terkilir berikutnya. Sekali terkilir, kaki kanan saya kena mental, dan akhirnya tidak stabil  sepanjang perjalanan. Kaki kiri pun ikut stress, beberapa kali nendang batu, akar, dll yang akhirnya menjadi memar juga. Jayagiri trail run, dengan height gain 1,3 K-an, kadang saya harus berhenti agar otot paha dan betis tidak keram. Satu km kadang harus ditempuh lebih dari 45 menitan, tanjakan yang terjal membuat harus memanjat pelan-pelan (konon, katanya belum seberapanya dibandingkan dengan kelas Dayang Sumbi trail run, terutama di tanjakan Burangrang). Ah, pokonya 1 km pun merasa tidak sampai-sampai.

Saya tidak bisa memanfaatkan lari di turunan terakhir menuju finish. Engkel saya sudah tidak stabil (seperti  remaja). Kalau dipaksakan lari terlalu riskan menjadi cedera lebih berat. Saya harus eman-eman seluruh kaki saya sebelum lari di itbultra. Kan ini tujuannya. Finish dalam 7 jam lebih (dari COT 8 jam) dan teman-teman saya sudah menunggu di tempat finish satu jam sebelumnya. Padahal, waktu ditanya sama istri sebelum pergi, "pulang jam berapa?" saya jawab "ah paling lama 4 jaman". Wae!

Kalau baru sekali-dua kali ikutan trail, apalagi finish, jangan jumawa, titik! Memasukan trail run dalam program latihan dalam  dalam kondisi under amatiran, mendingan jangan! Jangan ya, Dek!

Kalau pun tetap mau, tetap mengukur diri, jangan ugal-ugalan! 

Ngukur ka kujur, nimbang ka badan 

Pelarian 💨

Penantian itb ultra, diisi dengan tapering sambil berharap engkel saya memulih. Program training yang sudah ditentukan sebelumnya, saya turunkan intensitasnya secara dramatis. Makan protein pun meningkat dengan dramatis (landasan untuk rakus). Latihan menjadi dominan di upper body. Nyaris, kurang latihan lari di 10 harian itu. Hampir tiap hari kaki direndam pakai air es, agar penyembuhan lebih progresif. Pil yang nama belakangnya pakai *. bion saya konsumsi tiap hari untuk penghilang rasa sakit. 

Tibalah tanggal 26 September. Hari jumat sore saya dan istri dijemput oleh tim support untuk menginap di area Sentul. Jaraknya 15 menitan menuju Raiser (BRIN) Cibinong. Sempat makan banyak dulu sebelum tidur  di penginapan (karbo-loading ceritanya). Sampai di hotel jam 20.30 an, saya siapakan kostum lari dan segala kelengkapannya, agar kalau Pak Mino sudah dekat WS 4 - Cibinong, saya sudah tinggal bangun dan pakai kostum untuk siap terbang.

Gambar 3. Kaos jersey FITB R4 beserta perlengkapan lainnya

Naas, saya mulai mencoba tidur dari pukul 21.00, tapi  ngantuk pun tak kunjung datang. Beberapa hal yang mungkin membuat tidak bisa tidur. Pertama, kebiasaan tidur pukul 23 malam. Kalau ini ada alasan khusus. Pada dasarnya saya tidak suka tidur, sayang hidup ini bila waktu tidurnya lebih banyak daripada waktu hidupnya (asik). Jadi, saya gunakan waktu tidur yang paling deep, konon katanya di pukul 23 - 02, atau 00 - 03. Tapi di hari itu, kebiasaan ini berdampak buruk dalam lari. Kedua, kalau pun tidur, seluruh indera dan pikiran masih dalam mode terjaga, yang artinya juga mengurangi kualitas tidur. Saya sambil memonitor pelari leg 1 sudah sampai mana dst.  Kadang saya memasukan data-data yang ada di WA dimasukan ke ChatGPT untuk prediksi kedatangan pelari leg 1 di WS-Cibinong. Prediksinya jam 4.17 sampai di situ.

Saya bergegas hari Sabtu dini hari  pukul 02.15 an, mandi, ganti pakaian dan seterusnya. Saya rasakan kaki yang terkilir sudah tidak sakit, tapi rasanya masih belum seimbang.  Pukul 03.00 berangkat ke WS- Cibinong bersama tim support untuk menunggu pelari leg 1. 

Prediksi benar, jam empat-an Pak Mino datang di WS 4. Saya lanjutkan estafet BIB menuju WS 5 (Vokasi IPB) dan 6 (SMP YPPI Ar-Rahman) dalam keaadaan bugar. Pokonya saya atur sedemikian rupa larinya agar HR tidak melebihi Zona 2. Save battery mode. Tapi ya begitu, kurang tidur itu membuat HR cepat naik, yang akhirnya saya berada di pace yang lambat. Perlu waktu hampir 3 jam 40 menitan sampai di WS 6. 

Saya dan Pa Mino sempat berlari bersama dari WS 5 ke 6, karena beliau berlari untuk tim lain R16. Lari bersama yang menyenangkan, sama-sama concern dengan battery. Yang satu mode save, yang satu mode penghabisan. Kami berlari fartlek, membuat variasi kecepatan. Walaupun, dalam variasi tersebut larinya harus cepat, tetap pake pace yang lambat. Masuk ke WS 6 dengan happy. Sempat juga dibekali bacang oleh Isan ME00 disini. Nuhun mangs, sudah bangkit dari rumah untuk memberikan bacang impian. Bacangnya saya simpan. 

Prahara terjadi setelah ini. Saya lupa sarapan dan kurang makan. walaupun berbekal fitbar, tapi lupa untuk dimakan. Tiga kiloan setelah meninggalkan WS 6, tenaga tiba-tiba drop. Mau lari ataupun jalan, pacenya sama. Jalur menanjak pula. Tidak terpikirkan oleh saya, bahwa itu adalah karena kurang asupan. Karena, ada masalah satu lagi, si kaki kanan mulai protes. Dari mulai engkel loncer sampai ke paha atas keram depan belakang. Loncer, seperti baud lepas satu plus linu. Saya lebih mendengar kaki saya daripada perut saya. Tidak adil memang!

Dari titik itu, sebagian besar hidup saya adalah berjalan kaki. Sempat bertemu teman 99 (Thanks Capres Kendi and Cipres Yuke) yang memberikan saya spray-sal0np@s, membantu meringankan tugas saya, mengarungi elev. gain 300m an dalam jarak 11 km. Kadang saya coba melarikan diri, tapi kaki tambah protes. Saya mendengarkan apa kata dia aja. Oke, kita lalui bersama dengan pelan-pelan. Saya tidak akan meninggalkanmu. Kalau pisah bisa repot, ya! 

Gambar 4. Saya dan Prof. Mino fartlek run antara WS 5-6 (kiri). Tangkapan kamera hp Kendi/Yuke ketika saya kram paha belakang di antara WS 6-7. Mengacungkan jempol sambil berteriak "aya spray teu?" 

Perlu dua setengah jam sampai WS 7 (Hotel Cisarua Indah). Istri saya menyambut dengan Bubur. Benar saja, saya lapar! Lapar berat! Istri saya mengenali sifat perut saya dari pada saya sendiri. Perlu dua mangkok bubur, satu bacang, dan 2 bar energy untuk memuaskan perut saya. Padahal tim support sudah menawarkan di tiap WS. Karena di tiap WS ada pisang dan semangka, saya pikir sudah cukup untuk bekal ke WS berikutnya. Ah, dengan perut aja seperti baru kenal sehari-dua hari. Ignorance! Dia selama perjalanan memendam penderitaan. Tidak sekalipun menjerit.  Beda dengan si kaki yang rewel. Selain makan dari perbekalan mandiri, saya juga  melahan apapun yang disediakan di WS 7.  Tim medis  memberikan saya jel pereda sakit di kedua kaki saya.Di sini saya perlu istirahat yang agak lebih lama. Sepertinya sekitar 20 menitan saya istirahat di tempat ini. Tidur-tiduran. Saya memberi pesan video pada pelari leg 3, agar bersabar. 

Lanjut ke WS 8 (Marimba Garden). Badan saya terasa segar kembali dan bisa berlari kecil. Tapi itu pun tidak lama. Kuncinya selalu setelah 3 km an. Cuma kali ini kaki saya ngadat lagi. Tidak hanya engkel, tapi merambat ke betis dan paha. Sekali-kali saya harus berhenti untuk istirahat, menyemprot spray anti keram. Jarak yang harus ditempuh 12 K an, dengan elev. gain 500 meteran. Hari sudah siang, matahari sudah diatas ubun-ubun, bayangan pun enggan muncul. Tapi teriknya matahari hampir tidak terasa, tau-tau leher belakang kebakar. Saya concern hanya pada jeritan kaki saja. Kaki yang menemani saya lebih dari 40 tahun. Yup, 2 jam 40 menitan yang harus saya lalui untuk ke puncak surga di WS 8. Empat ratus meter sebelum di WS 8, saya sudah disambut oleh pelari ke 3. Pa Erwin sang penyemangat. Eh, taunya di depannya lagi ada istri saya, sang penyelamat!
 

 

Gambar 5. (Kiri) Bersama Pa Dudy-Dekan (yang lari di leg 4) dan tim support yang the best di Marimba-Puncak. (Kanan) Serah terima BIB dengan Pa Erwin

Perenungan ☁

Saat race ataupun saat training sendirian, setelah kilometer diatas jarak half-marathon, biasanya bujukan-bujukan untuk berhenti itu menguat. "ngapain sih", atau "apa-apaan ini", atau "sudah lebih dari dua jam, ayo sudahan", "DNF aja yuks", atau "katanya tidak akan ambis", dll. Namun, ketika ber-relay, bujukan-bujukan itu terhempas dari benak, tidak terdengar sama sekali. Yang ada adalah, "ayo, selesaikan tugas!". Pesona bermain secara tim ber-relay memang berbeda. Seperti ada sesuatu tanggung jawab yang harus dipikul bersama. 

Perenungan sebetulnya dimulai dari KM 23an, ketika tenaga tiba-tiba tekor. Kenapa begini, kenapa begitu? Baru 30 persen jalan menuju WS 7 sudah ngedrop. Lari kayanya di pace yang aman, tidak ada kejadian terkilir lagi. Kemiringan lebih landai daripada latihan mingguan Ciwaruga-Lembang. Kenapa? Kenapa? Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab setelah masuk di WS 7. Sarapan saya minim. Satu suap bubur itu cukup mengingatkan bahwa perut saya sedang menahan keluhannya. 

Lanjut ke WS 8 pun sama, namun kali ini memang sudah tenaga yang terkuras sebelumnya. Istirahat tidak berkualitas, asupan nutrisi kurang, dan kaki yang bermasalah. Cukup sih tiga aksi ini yang membuat perenungan yang panjang di elevation gains 1,3 K. Antusias yang tinggi atau overthinking sebelum race, wajib dihindari. Itu kadang yang membuat otak kita berputar yang seharusnya dipakai untuk istirahat berkualitas. Apa malah harus bawa obat tidur sekalian ,ya?

Istirahat dan asupan nutrisi  yang cukup sebelum marathon adalah gear yang wajib dibawa oleh pelari, kalau perlu sediakan cadangan!
Satu lagi, selain jangan jumawa pada saat training, masukan juga agenda strength training baik lower body dan full body. Latihan engkel secara khusus pun harus diprogram dengan intens. 

Engkel yang sehat dan tangguh salah satu kunci utama panjang umur dalam pelarian. 
Demikianlah saya curahkan perenungan ini sebagai bentuk pertobatan agar di masa depan bisa lebih membenahi diri dalam persiapan lari marathon. Emang mau lari lagi? Saya ucapkan terima kasih banyak pada tim support yang memikirkan dan menjaga keselamatan, kenyamanan, menjaga mental para pelari. Setiap anggota tim support harus bisa juga menjamin keselamatan dirinya dan anggota lainnya.

Atmosfer positif saat berlari menumbuhkan ketangguhan dan meningkatkan kesabaran, bagi pelari maupun tim support


Acknowledgment

Alhamdulillah, semua atas kuasa  Tuhan Yang Maha Esa. semua  selamat, sentosa, dan makmur, sesuai cita-cita bangsa, ikut serta dalam perdamaian dunia. Selanjutnya saya berterima kasih pada:
  • Tentu saja istri saya, Diah (full support, padamu negeri-jiwa raga kami), yang ikut serta dalam tim support. Anak-anak yang ditinggal di Bandung, yang balageur, tidak rewel, mendoakan kami semua selamat. Ambu juga yang sudah berdoa untuk keselamatan anak-anak dan cucu-cucunya. Bless them all, O Allah.
  • Ijal, berteman sejak imunisasi bebas polio, bersama-sama menenggak jamu buyung upik, sampai membuka cakrawala dunia lari yang panjang dan berliku.
  • Doni dan Ica, secara sengaja mengenalkan trail run dan mengenalkan arti tolong menolong dalam mengejar p*p mie di setiap WS
  • GM 99, ternyata banyak atlit dalam kesunyian, ga rame-rame, tau-tau seminggu lari  > 50 K. 
  • 99 itb, mengirimkan 2 tim R16 inspiratif dan supportif (manis mancun99 I dan II), ada juga  ditempatkan di tim lain, sampai ada yang R2 segala. Ikut ban99a capres-cipres!! Tidak lupa untuk Bapak Kendi dan Ibu Yuke (PL 99), spray-sal0np@s-nya aduhai menyadarkan untuk kembali berlari.. wae-lah!!
  • IAME, yang mengirimkan R16 (Anemo Sprint) dan R8 (Cyclone). Walaupun saya tidak bisa gabung, but I saw a lot of smiles and joy there. Tidak lupa, Mang Isan yang bangkit di weekend untuk mengantarkan tiga bongkah bacang di WS, enak pisan Mang. Mang H. Epan, Bee, and Juma, jauh hari sudah memberikan semangat secara Telekoneksi. Thank you, Bray!
  • Nayaga Lumpat. Walaupun tidak mengirimkan tim khusus, tapi beberapa anggota dari Naylum masuk podium di tim yang lain. E&.
  • GBFit Runner, yang tersusun dari unsur-unsur unggulan, membangun tim dana dan tim lestari R16 menjadi senyawa yang berdampak. Guru-guru yang mau mencurahkan tenaganya sebagai inspirator demi keberlangsungan kuliah putra-putri bangsa.
  • Teman satu tim. Tim Kebumian (namanya fakultas sekali ya 😁). Terima kasih sudah berlari dengan happy dan maksimal. Alhamdulillah, saya sempat ditemani Prof. Mino yang sedang menjalankan R16 di tim lain. 
  • Ada yang manis, tapi bukan janji. Le Minerale, hadir untuk menyegarkan tim runner dan tim support. Terima kasih telah mendukung logistik dan memeriahkan jersey tim kami. 
  • Berlari untuk menggalang dana, alhamdulillah FITB pada saat mengetik ini mencapai hampir 110 juta rupiah.  Terima kasih pada yang sudah berkontribusi, semoga keberkahan selalu pada anda dan keluarga. Mangga kalau masih ada yang mau memberi dukungan dapat di klik FITBlestari
  • Dan, ini yang paling penting! Seluruh Tim support FITB. Mengawal runner dengan infanteri motor dan mobil. Saya mengucapkan nuhun yang menggunung. Medali finisher ini untuk semua (tapi izin dipajang di rumah saya yah 😁). Tim support benar-benar supportif. Mengendarai motor pelan-pelan selama lebih dari 7 jam itu sungguh perlu kesabaran dan keteguhan hati. Terutama untuk Iki, Nindya, dan Zahrra, terima kasih untuk kesabarannya.
Gambar terakhir.  Antara WS 6-7, diingatkan papan iklan untuk minum

Terima kasih pada kaki saya, perut, tangan, paru-paru, ginjal, jantung, gigi, bulu hidung dan organ lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu! Keep moving with positivity!

Komentar