Terimakasih sebelumnya kepada rekan peneliti yang sudah menanyakan mengenai akuisisi data isotop hujan agar menghasilkan data yang akurat dan bersih. berikut pertanyaannya yang saya copas dari pesan WA:
"Semoga bapak dalam kondisi sehat. Mau tanya ttg isotop saat dilapangan boleh?
1. Untuk pengambilan sampel isotop, aspek-aspek kunci apa saja yang perlu dikontrol selama proses pengambilan sampel, penanganan, dan penyimpanan agar hasil yang diperoleh akurat?
2. Dalam analisis kimia air, kualitas data dapat dicek menggunakan keseimbangan ion. Untuk analisis isotop, apakah terdapat cara atau pendekatan tertentu untuk mengevaluasi akurasi atau keandalan data?
3. Menurut bapak, apakah perlu juga mengumpulkan data kimia air hujan pada musim hujan saat ini? Saya sudah mengumpulkan data kimia air hujan pada musim kemarau.
4. Saya berencana menyertakan sampel blank untuk memvalidasi pengukuran isotop dan meningkatkan tingkat kepercayaan terhadap data. Apakah 2 sampel blank sudah cukup?
5. Saya pernah dengar, menghindari kontaminasi bubble udara bisa ditambahkan kawat tembaga di dalam botol? Apakah ini valid?
Semoga berkenan menjawab ☺
Nuhun"
-----------------------------------------------------------------------------------------
Waalaikumsalam, siap.
saya jawab yang sepengalaman atau sependek pengetahuan saya ya :)
Ketika proses pengumpulan air hujan di dalam wadah raing gauge, ataupun wadah lain (jarigen), pastikan untuk tidak terjadi evaporasi. Seharusnya rain gauge yang standard itu sudah menimalisir efek evaporasi. Namun bila pake tabung/selongsongan biasa, saya pernah menggunakan minyak parafin untuk melindungi air hujan.
-
Ketika pengambilan sampel ke dalam botol sampel:
- Botol dan tutup botol, pakai botol yang tutupnya benar-benar rapat (polyseal/liner bagus). HDPE/PP atau kaca sama-sama bisa, yang penting tidak bocor.
Minim headspace, isi sampai penuh (hampir meluap), lalu tutup rapat. Headspace kecil peluang evaporasi kecil.
-
Hindari panas dan matahari: simpan di cool box, jangan ditinggal di dashboard mobil.
-
Jangan buka-tutup berulang, sekali tutup, jangan sering dibuka (uap air keluar-masuk).
-
Label dan catatan: kode sampel, waktu, lokasi, jenis air, kondisi cuaca, dan bila hujan: intensitas/awal-akhir event (ini penting buat interpretasi).
-
Kalau juga ambil kimia: biasanya dipisah botol (kimia bisa perlu filtrasi/preservasi; isotop umumnya tanpa preservasi).
-
Duplikat/replicate: ambil field duplicate (satu lokasi, dua botol) dan lihat selisihnya. Patokan praktis, beda kecil (umumnya ~≤0,1‰ untuk δ¹⁸O dan ~≤1‰ untuk δ²H, tapi tergantung lab/instrumen). Bisa dilakukan ini untuk satu atau dua sampel saja, bergantung pada budget yang kita punya
-
Plot δ²H dan δ¹⁸O, cek apakah masuk akal terhadap LMWL (Local Meteoric Water Line) / Global MWL. Outlier yang “nyelonong” sering indikasi evaporasi, salah label, atau campuran unik.
-
d-excess (d = δ²H − 8·δ¹⁸O), nilai ekstrem/tidak konsisten antar sampel yang “harusnya mirip” sering jadi alarm (evaporasi, kelembapan rendah, atau masalah handling).
-
QC lab: pastikan lab melaporkan standar acuan (VSMOW/SLAP), drift, precision; dan idealnya ada check standard yang diulang tiap batch.
-
Musim hujan biasanya lebih dilusi, beda dominasi aerosol/transport, beda kontribusi washout.
-
Kalau nanti mau mengaitkan isotop/kimia air tanah/sungai dengan recharge, sinyal musim hujan sering yang paling “nyambung”.
Kalau keterbatasan waktu/biaya, minimal ambil beberapa event representatif (awal musim hujan, puncak, dan akhir).
-
2 blank itu minimal, bisa dipakai sebagai "proof of concept".
-
Tapi untuk QA/QC yang meyakinkan, praktik bagusnya: 1 blank per hari sampling atau per batch (misal per 10–20 sampel), plus beberapa duplikat. Tapi tentu hal ini menjadi nambah beban biaya (dan waktu)
-
Untuk isotop, yang penting botol penuh + tutup rapat + dingin/gelap.
-
Kawat tembaga, mungkin, malah berpotensi mengganggu analisis kimia (lindih ion/reaksi), dan tidak benar-benar “menghilangkan” headspace.
Komentar
Posting Komentar