Musim Hujan di Java: Kontrol Multiskala dan Peak kedua di Jawa Bagian Barat

Beberapa hal mengenai makalah ini:

  • Aldrian, E., and R. Dwi Susanto, 2003: Identification of three dominant rainfall regions within Indonesia and their relationship to sea surface temperature. Intl Journal of Climatology, 23, 1435–1452, https://doi.org/10.1002/joc.950.
  • Hamada, J.-I., M. D. Yamanaka, J. Matsumoto, S. Fukao, P. A. Winarso, and T. Sribimawati, 2002: Spatial and Temporal Variations of the Rainy Season over Indonesia and their Link to ENSO. Journal of the Meteorological Society of Japan. Ser. II, 80, 285–310, https://doi.org/10.2151/jmsj.80.285.
  • Qian, J.-H., A. W. Robertson, and V. Moron, 2010: Interactions among ENSO, the Monsoon, and Diurnal Cycle in Rainfall Variability over Java, Indonesia. Journal of the Atmospheric Sciences, 67, 3509–3524, https://doi.org/10.1175/2010JAS3348.1.
  • Rusmanansari, A. H., R. Suwarman, Y. S. Djamil, and Y. Firdaus Permadhi, 2022: GSMaP Seasonal Rainfall Verification Over Western Java. Proceedings of the International Conference on Radioscience, Equatorial Atmospheric Science and Environment and Humanosphere Science, 2021, E. Yulihastin, P. Abadi, P. Sitompul, and W. Harjupa, Eds., Singapore, Springer Nature, 761–770, https://doi.org/10.1007/978-981-19-0308-3_60.
  • Yasunari, T., 1981: Temporal and Spatial Variations of Monthly Rainfall in Java, Indonesia. Japanese Journal of Southeast Asian Studies, 19, 170–186, https://doi.org/10.20495/tak.19.2_170.
Ada beberapa keypoin:
  1. Sampai saat ini, diketahui bahwa curah hujan di Jawa umumnya bermoda satu puncak utama pada musim hujan DJF (Desember–Februari) dengan pengaruh kuat monsun. Namun, Jawa Barat menunjukkan secondary peak curah hujan terutama di zona selatan dan tengah, menyebabkan pola bimodal yang unik di wilayah tersebut.

  2. Onset musim hujan mulai dari pesisir selatan pada September–Oktober dan merambat ke utara, dengan retret dari utara ke selatan sekitar Maret–Mei.

  3. Pola curah hujan dipengaruhi oleh interaksi ENSO yang memodulasi kekuatan monsun dan siklus diurnal, serta pengaruh zona pegunungan atau orografis.​ Korelasi ENSO terbaik untuk prediksi musim hujan berada pada periode September–November, sedangkan Maret–Mei memiliki prediktabilitas rendah sehingga butuh pemantauan intensif.

  4. Pemodelan regional (RegCM3) berhasil merekonstruksi pola fase hujan dengan detail spasial utara–selatan dan dampak ENSO.​ 


Kekontrasan curah hujan utara–selatan kontras di Pulau Jawa muncul dari interaksi multi-skala seperti ENSO dan variabilitas SSTnya, monsun, sirkulasi diurnal darat–laut, lembah–gunung, dan kontrol orografis. Data observasi dari stasiun atau satelit, dan pemodelan iklim regional memperlihatkan bahwa El Niño cenderung melemahkan monsun barat sehingga memperkuat peran sirkulasi diurnal dan mengalihkan konvergensi ke pegunungan selatan, sedangkan La Niña terjadi hal sebaliknya. Dalam konteks regional, Jawa berada dalam Region A-nya Aldrian dan Susanto, dengan puncak DJF dan siklus tahunan yang kuat, namun heterogenitas di dalam pulau itu sendiri menghasilkan fitur penting seperti secondary peak yang menonjol di sebagian wilayah Jawa Barat.

Rekonstruksi region pola curah hujan dari Aldrian-Susanto dan Hamada dkk, (maaf jelek 😁)


Komentar